Kondisi Keamanan Siber di Sektor Keuangan: 6 Tren Penting yang Harus Diperhatikan di 2026

Di era digital saat ini, sektor keuangan menjadi salah satu target utama serangan siber. Bank, perusahaan finansial, koperasi kredit, hingga platform cryptocurrency semuanya bergantung pada teknologi digital untuk menjalankan operasional sehari-hari. Sayangnya, semakin tinggi ketergantungan terhadap teknologi, semakin besar pula risiko serangan yang harus dihadapi.

Laporan terbaru dari Darktrace mengungkap bahwa ancaman siber terhadap sektor keuangan terus berkembang dengan cara yang semakin canggih. Berdasarkan data nyata dari berbagai perusahaan keuangan di seluruh dunia, ada enam tren utama yang perlu diperhatikan pada tahun 2026.


1. Serangan Pencurian Akun Semakin Meningkat

Salah satu metode serangan paling umum masih berasal dari phishing, yaitu upaya penipuan melalui email palsu untuk mencuri username dan password korban.

Penyerang biasanya membuat email yang terlihat resmi, misalnya mengatasnamakan bank atau perusahaan terpercaya. Ketika korban memasukkan data login, informasi tersebut langsung dicuri.

Kini teknik phishing menjadi lebih berbahaya karena penjahat siber menggunakan metode seperti:

  • AiTM (Adversary-in-The-Middle) untuk melewati sistem keamanan MFA (Multi-Factor Authentication)

  • Quishing, yaitu phishing menggunakan QR code palsu

Pada semester pertama tahun 2025 saja, Darktrace menemukan sekitar 2,4 juta email phishing di lingkungan sektor keuangan. Yang mengejutkan, hampir 30% email tersebut menargetkan pengguna penting seperti direktur, manajer, dan eksekutif perusahaan.

Artinya, penjahat siber kini tidak hanya menyerang pengguna biasa, tetapi juga memburu akun dengan akses tinggi.


2. Kebocoran Data Menjadi Ancaman Besar

Selain pencurian akun, kebocoran data juga menjadi masalah serius.

Banyak perusahaan keuangan tanpa sadar mengirim file sensitif ke email pribadi seperti Gmail, Yahoo, atau iCloud. Hal ini bisa terjadi karena karyawan bekerja dari rumah, menggunakan perangkat pribadi, atau sekadar ingin lebih praktis.

Masalahnya, data penting perusahaan bisa bocor keluar tanpa pengawasan.

Darktrace mencatat bahwa hanya dalam Oktober 2025 terdapat:

  • Lebih dari 214 ribu email dengan lampiran mencurigakan dikirim ke email pribadi

  • Lebih dari 351 ribu email dengan file asing dikirim ke layanan email gratis

Bagi sektor keuangan, kerahasiaan data pelanggan adalah hal utama. Jika data nasabah bocor, dampaknya bisa sangat besar, mulai dari kerugian finansial hingga hilangnya kepercayaan pelanggan.


3. Ransomware Kini Fokus Mencuri Data

Dulu ransomware hanya mengenkripsi file agar korban tidak bisa mengakses data mereka. Namun sekarang pola serangan berubah.

Penjahat siber kini lebih dulu mencuri data penting sebelum mengenkripsi sistem. Setelah itu, korban diperas dua kali:

  1. Membayar agar sistem kembali normal

  2. Membayar agar data curian tidak disebarkan

Kelompok ransomware seperti Cl0p dan RansomHub diketahui sering menyerang sistem transfer file milik perusahaan keuangan.

Yang mengkhawatirkan, Darktrace menemukan aktivitas serangan bahkan enam hari sebelum celah keamanan diumumkan secara publik. Ini menunjukkan bahwa hacker sering kali bergerak lebih cepat daripada proses patching perusahaan.


4. Firewall dan VPN Menjadi Target Favorit Hacker

Perangkat keamanan seperti firewall, VPN, dan gateway akses jarak jauh dulunya dianggap pelindung utama perusahaan.

Namun sekarang perangkat tersebut justru menjadi target utama serangan.

Hacker memanfaatkan celah keamanan pada perangkat seperti:

  • Citrix

  • Palo Alto

  • Ivanti

Jika berhasil diretas, perangkat ini bisa dipakai untuk:

  • mencuri akun pengguna,

  • masuk ke jaringan internal,

  • bergerak diam-diam tanpa terdeteksi.

Banyak perusahaan terlambat melakukan update keamanan karena khawatir mengganggu operasional. Celah inilah yang dimanfaatkan penyerang.


5. Serangan Korea Utara terhadap Crypto dan Fintech Meningkat

Aktivitas kelompok hacker yang diduga berasal dari Korea Utara juga semakin agresif, terutama terhadap perusahaan cryptocurrency dan fintech.

Kelompok seperti Lazarus diketahui menggunakan:

  • malware,

  • paket software palsu,

  • celah keamanan aplikasi,

  • backdoor tersembunyi

untuk mencuri data dan aset digital.

Serangan ini ditemukan di banyak negara seperti:

  • Inggris

  • Spanyol

  • Swedia

  • Nigeria

  • Kenya

  • Qatar

Hal ini menunjukkan bahwa ancaman siber kini bersifat global dan tidak mengenal batas negara.


6. Risiko Cloud dan AI Semakin Sulit Dikendalikan

Perusahaan keuangan kini banyak menggunakan:

  • cloud computing,

  • AI,

  • aplikasi otomatis,

  • sistem multi-cloud

untuk meningkatkan efisiensi kerja.

Namun semakin kompleks sistem yang digunakan, semakin sulit pula pengawasannya.

Banyak perusahaan mulai kesulitan memantau:

  • di mana data disimpan,

  • siapa yang mengakses,

  • aplikasi AI apa yang digunakan karyawan,

  • apakah data sensitif bocor ke platform AI publik.

Penggunaan AI tanpa aturan yang jelas kini menjadi perhatian besar hingga level direksi perusahaan.


Mengapa Perusahaan Keuangan Harus Lebih Proaktif?

Laporan ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan lama sudah tidak cukup lagi.

Dulu perusahaan hanya fokus:

  • memasang antivirus,

  • firewall,

  • melakukan patch jika ada masalah.

Sekarang perusahaan harus bergerak lebih proaktif dengan:

  • memantau seluruh aset digital,

  • mendeteksi ancaman lebih awal,

  • memahami risiko yang paling berbahaya,

  • menggunakan AI untuk membantu pertahanan siber.

Konsep ini dikenal sebagai Cyber Exposure Management (CEM).

Tujuannya bukan hanya menghentikan serangan, tetapi juga memahami:

  • bagian mana yang paling rentan,

  • aset mana yang paling penting,

  • risiko mana yang harus diprioritaskan.


Kesimpulan

Sektor keuangan akan terus menjadi target utama serangan siber karena menyimpan data dan transaksi bernilai tinggi.

Tren tahun 2026 menunjukkan bahwa:

  • phishing semakin canggih,

  • ransomware semakin agresif,

  • firewall dan VPN semakin sering diserang,

  • kebocoran data makin sulit dicegah,

  • penggunaan AI membawa risiko baru.

Perusahaan keuangan tidak bisa lagi hanya bereaksi setelah serangan terjadi. Mereka harus mulai membangun sistem keamanan yang proaktif, cerdas, dan mampu mendeteksi ancaman sejak dini.

Di dunia digital saat ini, keamanan siber bukan lagi sekadar urusan IT, tetapi sudah menjadi bagian penting dari kelangsungan bisnis dan kepercayaan pelanggan.

darktrace Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi darktrace.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.